Di jalan kampung selebar dua mobil aku terkejap silau. Uhh… ternyata begini to matahari Jakarta pada jam segini, 08.00. Hangat dan sebentar lagi memanggang. Berarti aku ketinggalan…
Malam sebelumnya, api biru mengerdil dan lantas lenyap dari mulut kompor. Untung empat butir telur telah matang untuk disemur pagi ini.
Selagi istri beberes ruang tamu, aku jalan kaki ke warung, cuma 4 rumah dan tiga tikungan ke kiri. Dalam pulang itu sambil nenteng tabung gas 3 kg, di jalan yang lurus menjurus ke arah timur, sinar hangat pagi Jakarta terasa merayap akrab di kulit yang sudah belum mandi.
Sampai di depan teras, Bilqis, cucu induk semangku yang mengelendot di bahu kakeknya, iseng meraih tentenganku. Rambutnya masih basah.
Kuusap lenganku, pertama karena ingin merasai kulit tersiram mentari. Kedua, sebagai pengganti air karena belum cuci muka.
Sekejap pula aku merasa banyak ketinggalan pesta mandi matahari itu. Kalah start dibanding Bilqis dan kakeknya, kalah jauh dengan tukang sayur keliling dan terbilang malas disandingkan dengan burung prenjak-nya Bang Lubis yang telah segar mengepakkan sayap berbulir air.
Aku hanya menang bila dibandingkan Tino Taliso dan Ndut Margendut. Itupun karena mereka lebih memilih lelap di bawah Soluna biru metalik daripada menghangatkan badan dan meraup Vitamin D. Ketika sandalku menjejak di dekat mereka, si Tino hanya mengerjap membuka salah satu mata beloknya lalu acuh dan bergeming. Si Ndut tetap mendengkur pelan-nyaman-damai- dan rrr…rrr…rrr…
Nah, esok pagi aku bertekad ikut pesta matahari.
Jangan sampai ketinggalan!
Biarlah si betina Tino Taliso dan sang pejantan Ndut Margendut yang bangun siang. Mungkin mereka kelelahan setelah semalaman mengobrak-abrik kantong sampah warga RT 01 nan terhormat.








Posted by aneka on 13 April 2010 at 11:46 AM
siap ayah! semangat! biar si Tino Taliso & Ndut yg gak kebagian matahari pagi ^^,