Lelaki yang lelah

Di Sudirman, di halte busway bawah jembatan Karet, aku bertemu dengannya lagi. Ketika aku sejenak berhenti di U-turn, bukan berhenti untuknya, tapi untuk mengenakan jas hujan.

Dia berjalan terhuyung merunduk dengan lipatan Koran Tempo di tangan kanannya sebagai penangkis hujan Jakarta siang tadi. Lengan kirinya memeluk tas jinjing, dari merk dan model, sepertinya berisi laptop. Ohh, tak tahulah apa yang coba ia selamatkan. Kepala atau komputer jinjingnya :)

“Zuhan!” pekikku ketika ia melintas meloncati genangan di depanku. Ia hanya melirik karena kakinya tengah melayang menuju trotoar. Segera berbalik dengan memicing, mungkin karena air hujan di bulu matanya. Bisa juga lantaran tak segera mengenaliku. “Ya?” jawabnya datar. Ada ragu dan curiga. Ahhhh!!!

“Inung nih. Jogja. UGM!” aku sengaja mengucapkan tiga kata ajaib itu. Jujur bukan untuk mengingatkannya tapi lebih untuk membuatnya segera merasa aman.

Ini Jakarta bung! Aku berasumsi berada di posisi kawanku itu. Di tengah keramaian Sudirman yang bising dan kalang kabut oleh hujan deras, semua bisa terjadi. Mungkin aku berlebihan, tapi begitulah adanya. Paling tidak menurutku.

Nah, kawanku itu segera mengenaliku.

“Sosiatri ya?”

Tapi semprul, karena lanjutnya, “Nggak lulus kuliah kan?”

Nyengirku sudah menjawab pertanyaann dan melumerkan sikap waspadanya. Identitas jurusan dan status akademikku jelas-jelas identik dengan Inung yang dikenalnya :mrgreen:

Tak ada obrolan ‘reuni’ waktu itu. Yah, berhubung sikon lah. Saling bertukar info tempat kerja dan kartu nama sudah cukup untuk pertemuan tidak sengaja itu.

Ia segera masuk (atau, naik ke halte busway, karena harus naik tangga). Kulihat lagi di kartu namanya. Olala, Zuhan kini bekerja di lembaga riset pustaka. Associate-editor, begitu tertulis di kartu nama oranye.

Tiba di kantor usai asar, seperti biasa, langsung mengecek email. Email sang editor di urutan kedua dari atas, sepuluh menit yang lalu. Sent from Blackberry, powered by Indosat.

Kalimatnya hanya satu baris. One-liner nih :) Malah, cuma tiga kata plus bonus tanda tanya.

Gimana kabar Lista?

Kujawab: Ndak ngerti, masbro. Suwe ra ketemu.

Tak tahu, sudah lama tidak ketemu. Pendek tapi lebih panjang dari pertanyaannya.

Kali ini nada sms masuk di 9300 ku yang bercericit. Ngapusi! tulisnya.

Tak segera kujawab. Sms kembali masuk. YM bro.

Tak pula ku klik ikon percakapan online di PC.

Sampai abis maghrib ini, sudah tiga kali kami berbalas pesan seluler. Pertanyaan Zuhan jelas. Jawabanku tak jauh dari retorika dan berulang. Intinya ‘ndak tahu’ meski bungkusnya macem-macem: emang dari dulunya ndak akrab, sampai ngeles paling mutakhir tapi basi 8O , Lista ndak punya FB!

Pesan terakhirku tadi tak Zuhan jawab: Sudahlah masbro, cari yang lain wae. Ntar capek hati ndiri lho qe3

Sampai jelang isya, tak ada sms lagi. Sambil beberes, tak sadar nafasku mendengus lega. Wanti-wanti dari Lista purna sudah kutunaikan.

“Jangan cerita apa-apa. Sedikit kamu ngomong, kamu yang repot, didhedhes terus. Bilang aja, ndak pernah ketemu. Titik!” pesan perempuan yang kini mengambil S2 Psikologi di Australia itu, di peron stasiun Tugu Jogja, Mei 3 tahun lalu.***

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.